Monday, March 7, 2022

Orang Bunian - Mahluk Halus atau Hominid?

Suku-suku di wilayah-wilayah yang berlainan di Indonesia memiliki mitos, pendapat dan pandangan yang berbeda-beda terhadap orang-orang bunian. Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah mahluk halus, ada yang menganggap mereka jenis kera yang belum diketahui dan ada juga yang menganggap mereka jenis manusia yang berbeda.
Pengertian "Orang Bunian" atau sekedar bunian di daerah Minangkabau adalah mitos sejenis makhluk halus. Berdasar mitos tersebut, orang bunian berbentuk menyerupai manusia dan tinggal di tempat-tempat sepi, di rumah-rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya dalam waktu lama.


Istilah orang bunian juga kadang-kadang dikaitkan dengan istilah dewa di Minangkabau, pengertian "dewa" dalam hal ini sedikit berbeda dengan pengertian dewa dalam ajaran Hindu maupun Buddha.
"Dewa" dalam istilah Minangkabau berarti sebangsa makhluk halus yang tinggal di wilayah hutan, di rimba, di pinggir bukit, atau di dekat pekuburan. Biasanya bila hari menjelang matahari terbenam di pinggir bukit akan tercium sebuah aroma yang biasa dikenal dengan nama "masakan dewa" atau "samba dewa". Aroma tersebut mirip bau kentang goreng. Hal ini dapat berbeda-beda namun mirip, berdasarkan kepercayaan lokal masyarakat Minangkabau di daerah berbeda. "Dewa" dalam kepercayaan Minangkabau lebih diasosiasikan sebagai bergender perempuan, yang cantik rupawan, bukan laki-laki seperti persepsi yang umum di kepercayaan lain.


Selain itu, masyarakat Minangkabau juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang disembunyikan dewa/orang bunian. Ada juga istilah "orang dipelihara dewa", yang saat bayi telah dilarikan oleh dewa. Mitos ini masih dipercaya banyak masyarakat Minangkabau sampai sekarang.


Di daerah Bengkulu, orang Bunian disebut juga sebabah yang merupakan satu bentuk yang mirip dengan manusia hanya saja mereka bertubuh kecil dan berkaki terbalik. Lebih kedaerah pedalamannya lagi ada juga kisah tentang mahluk Gugua, yang mempunyai perawakan berbulu lebat, pemalu dan suka menirukan tingkah laku dan perbuatan manusia. Konon pada zaman dahulu mahluk ini bisa ditangkap. Masyarakat dahulu menangkap mahluk ini dengan menyiapkan sebuah perangkap. Ada juga kisah tentang perkawinan mahluk ini dengan penduduk lokal dan mempunyai keturunan.


Di gunung Sebelat (Taman Nasional Kerinci), Orang bunian dipercaya merupakan komunitas manusia hutan. Masyarakat setempat menyebutnya Uhang Pandak. Salah satu peniliti asing yang bernama Deborah Martyr begitu sangat tertarik dengan legenda ini dan melakukan penelitian, namun hingga saat ini penelitian tersebut belum menunjukkan hasil.


Istilah Uhang pandak adalah pengertian dari orang yang bertubuh pendek. Mereka merupakan mahluk yang keberadaannya telah diketahui sejak puluhan tahun yang lalu, namun hingga saat ini sulit menemukan bukti fisik dan otentik tentang keberadaan mahluk ini. Keberadaan mereka sendiri sering dilaporkan oleh orang-orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan mereka, banyak dari wisatawan dan peneliti mancanegara yang melakukan riset tentang alam Gunung Sebelat secara tidak sengaja bertemu dengan kumpulan mahluk ini.


Bahkan, menurut legenda setempat masih ada suku "orang kecil" yang hidup jauh di dalam hutan. Tengkorak mereka jauh lebih kecil daripada manusia modern, tetapi korteks prefrontal masih berukuran sama dengan manusia modern yang menunjukkan tingkat kecerdasan tinggi dan kesadaran diri (self-awareness). Banyak peneliti berpendapat bahwa Homo floresiensis ini bukanlah pigmi, kerdil, atau cebol, mereka adalah sesuatu yang unik. Dengan demikian, mereka diberi julukan - hobbit - atau Halfling, tokoh terkenal dari novel trilogi Lord of the Rings yang ditulis oleh JRR Tolkien (1954).

Apakah Homo Floresiensis ini ada hubungannya dengan orang bunian atau uhang pandak? Ataukah uhang pandak dan orang bunian adalah turunan homo floresiensis yang masih hidup? Mungkin andalah yang ingin menelitinya ...