Friday, January 7, 2022

Misteri Katak Sulawesi: Satu-Satunya Spesies Katak Melahirkan Kecebong


“Katak Bertaring” dikelompokkan dalam genus Limnonectes adalah genus katak dari familia Dicroglossidae. Katak jenis ini disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah, mirip taring. “Taring” yang dimiliki jenis katak ini bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya.

Sampai saat ini, ilmuwan belum mengetahui manfaat taring pada katak genus ini. Beberapa kemungkinan adalah sebagai senjata melawan pejantan lain untuk mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.

Bentuk adaptasi katak-katak dengan ‘gigi taring’ ini diantaranya adalah spesies katak bertaring dengan kaki berselaput tebal untuk beradaptasi dengan arus sungai yang deras. Sementara yang lain berselaput tipis, sesuai dengan lingkungan darat. Yang unik, terdapat jenis katak yang melakukan fertilisasi internal, meletakkan telurnya jauh dari air dan mengawasinya.

Katak-bertaring-sulawesi-
Taring kecil yang dimiliki katak bertaring asal Sulawesi. (wikimedia).

Keunikan Katak Bertaring Sulawesi

Spesies katak bertaring (fanged frogs) yang ditemukan di Sulawesi memiliki variasi adaptasi yang berbeda, sesuai kondisi lingkungan dan iklim mikro masing-masing. Ada yang berdaptasi mulai dari ekosistem yang terbasah hingga terkering juga dengan beragam vegetasi yang ada.

Untuk pertama kalinya seekor spesies baru dari jenis Fanged Frog atau Katak Bertaring asal Sulawesi (Limnonectes larvaepartus) terlihat melahirkan kecebong atau berudu, dan ini merupakan hal baru dalam bidang ilmu pengetahuan. Karena katak pada umumnya berkembang biak dengan cara bertelur.

Jenis katak bertaring ini hidup di Sulawesi dan para ahli zoologi sudah memburunya selama puluhan tahun karena perilaku unik ini. Untuk pertama kalinya tim internasional menguraikan temuan ini dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Plos One.

Awalnya Dr Jim McGuire dari University of California, Berkeley mengira dia memegang katak jantan ketika menyaksikan kelahiran kecebong atau berudu itu. Namun ternyata itu adalah katak betina yang sedang hamil dan tiba-tiba McGuire menggenggam kecebong atau berudu yang baru lahir.

fang frong sulawesi 01
Seekor jantan dari spesies baru katak bertaring, Limnonectes larvaepartus, duduk di sebelah kubangan kecil yang berisi berudu atau kecebong (lingkaran kuning), dan dapat menjaga mereka, perilaku khas pejantan di beberapa spesies katak. (Credit: Jim McGuire, UC Berkeley)

Mekanisme misteri

Hampir semua dari 6.000 jenis katak di dunia melakukan proses pembuahan eksternal atau diluar tubuh. Yaitu dengan cara: katak betina akan bertelur saat kawin, sedangkan katak laki-laki mengeluarkan sperma untuk membuahinya.

fang frong sulawesi tadpoles
Kecebong atau berudu yang baru lahir (pandangan atas dan bawah) dari katak bertaring Sulawesi memiliki panjang sekitar 10 milimeter (1 cm) Spesies baru Limnonectes larvaepartus ini adalah satu-satunya spesies katak yang diketahui melahirkan berudu hidup. (Credit: Jim McGuire, UC Berkeley)

Namun berbeda dengan spesies yang termasuk ‘katak bertaring’ dari Sulawesi ini.

“Tapi banyak modifikasi aneh dalam standar perkawinan katak ini,” kata Dr McGuire.

“Katak jenis baru ini hanyalah bagian dari 10 atau 12 spesies yang berkembang biak dengan pembuahan internal (di dalam tubuh -red). Namun mereka adalah jenis katak satu-satunya yang melahirkan kecebong.”

Bagaimana katak-katak jantan itu berhasil membuahi telur yang ada di dalam tubuh katak betina tetap masih menjadi misteri.

Mengapa menjadi misteri? Karena katak diketahui oleh para ilmuwan di dunia: bahwa mereka tidak memiliki organ seksual konvensional untuk mentransfer sperma. Lalu, bagaimana sperma bisa masuk ke dalam tubuh betina untuk dapat membuahi telur-telurnya yang berada di dalam tubuh katak betina?