Sunday, October 30, 2022

Sejarah Tersembunyi Julfar, Kota yang Hilang di Gurun Uni Emirat Arab


Saat ini Dubai di Uni Emirat Arab (UEA) ini merupakan salah satu kota terbaik dan termaju di Timur Tengah bahkan di dunia. Namun di balik kemajuan pesat salah satu kotanya ini, ternyata UEA menyimpan banyak sejarah dari kota-kota kunonya, termasuk kota-kota yang hilang terkubur di bawah gurunnya.

Salah satu kota hilang paling terkenal di wilayah Timur Tengah adalah sebuah kota kuno di UEA. Nama kota yang hilang itu adalah Julfar.

Julfar diyakini merupakan rumah bagi pelaut Arab legendaris Ahmed ibn Majid, bahkan juga diduga sebagai tempat tinggal Sindbad si Pelaut. Julfar berkembang pesat selama seribu tahun sebelum jatuh ke dalam kehancuran dan menghilang dari ingatan manusia selama hampir dua abad.

Tidak seperti kota gurun lainnya, Julfar adalah pelabuhan yang berkembang pesat. Bahkan, kota ini menjadi pusat perdagangan selatan Arab Teluk pada Abad Pertengahan.


Kota ini diketahui berada di suatu tempat di pantai Teluk Persia di utara Dubai. Situs dari kota itu pernah ditemukan oleh para arkeolog pada tahun 1960-an dan berpuluh-puluh tahun kemudian situs itu tidak pernah ditemukan lagi.

Barulah pada tahun 2010, seperti diberitakan The National, sisa-sisa bangunan sebuah kota kuno yang diyakini sebagai kota perdagangan abad pertengahan Julfar ditemkan kembali di wilayah Ras al Khaimah. Upaya penggalian arkeologi kota bata lumpur tua itu didanai oleh Pemerintah Ras al Khaimah.

Dr Kevin Lane, manajer proyek penggalian tersebut, berkata: "Ini benar-benar merevisi apa yang kami pikirkan tentang Julfar. Jauh lebih substansial. Kami sudah tahu bahwa ini adalah pelabuhan yang ramai. Sekarang kami memiliki buktinya. "

Ancient Origins memaparkan bahwa tanda-tanda permukiman paling awal yang ditemukan di situs Julfar berasal dari abad ke-6. Periode tersebut adalah masa ketika penduduknya sudah berdagang hingga ke India dan Timur Jauh secara rutin.

Kemudian abad ke-10 hingga 14 adalah zaman keemasan bagi Julfar dan untuk perdagangan dan pelayaran Arab jarak jauh. Para navigator dan pelaut Arab secara rutin melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia. Orang-orang Arab telah berlayar ke perairan Eropa jauh sebelum orang-orang Eropa berhasil berlayar melalui Samudra Hindia dan ke Teluk Persia.

Sebagai pangkalan utama pelayaran dan perdagangan ini, Julfar adalah kota terbesar dan terpenting di Teluk selatan selama lebih dari seribu tahun. Para pedagang Arab secara rutin melakukan pelayaran laut raksasa selama delapan belas bulan sejauh Tiongkok untuk berdagang.

Pusat komersial yang begitu berharga ini menarik terus perhatian para penjelajah di luar Arab. Portugis mengambil alih wilayah ini pada abad ke-16, dan saat itu Julfar menjadi kota besar yang berpenduduk sekitar 70.000 orang.

Seabad kemudian Persia merebutnya. Namun pada 1750 mereka menyerah pada suku Qawasim dari Sharjah yang menempatkan diri mereka di wilayah Ras al-Khaimah. Suku tersebut terus menguasai daerah itu hingga hari ini.

Namun mereka meninggalkan Julfar sehingga lama-kelamaan kota itu terlupakan dan hanya menjadi reruntuhan di antara bukit-bukit pasir. Saat ini sebagian besar area Kota Julfar kemungkinan besar masih tersembunyi di bawah bukit-bukit pasir yang luas di utara Ras al-Khaimah tersebut.

Ras al-Khaimah adalah wilayah hamparan padang pasir yang luas yang ditopang oleh Pegunungan Hajar. Wilayah gurun yang mencakup sekitar 95% teritorial Uni Emirat Arab ini tidak diragukan lagi masih menyembunyikan banyak rahasia.

Hampir setiap tahun ditemukan penemuan-penemuan signifikan yang mengisi beberapa ruang kosong pagi kepingan-kepingan puzzle masa lalu dari salah satu negara Arab yang paling luar biasa ini. Yang menarik, semua situs penemuan itu ditambah banyak tempat eksotis lainnya hanya berjarak sekitar satu jam berkendara dari kota modern Dubai sehingga memudahkan para pejalan untuk menziarahinya.

Friday, October 28, 2022

Radiasi di Bulan 200 Kali Lebih Tinggi Dari Bumi, Bagaimana dengan Astronaut?


Eksplorasi antariksa hadir dengan berbagai risiko, termasuk radiasi luar angkasa. Di luar pelindung Bumi, ada medan magnet, partikel dari Matahari, serta hal-hal lain di galaksi yang membahayakan kesehatan manusia.

Dipublikasikan pada jurnal Science Advances, para peneliti telah menghitung level radiasi astronaut di Bulan dan hasilnya sungguh tinggi.

Dilansir dari IFL Science, mereka memperkirakan, dosis radiasi yang diterima para astronaut per harinya mencapai 1,3 milliSievert (satuan unit yang mengukur dosis radiasi yang diterima dari sumber radioaktif). Angka tersebut 2,6 kali lebih tinggi dari yang dialami para astronaut dan kosmonaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

“Tingkat radiasi yang kami ukur di Bulan sekitar 200 kali lebih tinggi daripada permukaan Bumi,” kata Robert Wimmer-Schweingruber, penulis studi tersebut.

“Karena para astronaut akan terpapar lebih lama dengan tingkat radiasi ini, maka bisa dibilang sangat berbahaya,” imbuhnya, dikutip dari IFL Science.

Tingkat radiasi ini sangat sulit digambarkan, tapi yang pasti jauh lebih tinggi dari yang ditetapkan Enviromental Protection Agency dengan rata-rata paparan 1 milliSievert dalam satu tahun.

Mereka yang secara khusus bekerja di lingkungan penuh radiasi bahkan hanya boleh terpapar maksimum 50 milliSievert dalam satu tahun. Bayangkan saja, seorang astronot di Bulan akan melewati batas itu dalam 38 hari dan 12 jam.

Hasil pengukuran informatif ini berasal dari eksperimen Lunar Lander Neutrons and Dosimetry di atas pendarat Chang’e 4 milik Tiongkok yang ditempatkan di sisi jauh Bulan. Meski bukan pengukuran radiasi pertama di Bulan, tetapi ia yang pertama kali mencapai tingkat presisi seperti ini.

Tentu saja hasil itu menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan keselamatan para astronaut.

Radiasi luar angkasa adalah masalah yang terus-menerus diselidiki, terutama dalam hal perencanaan misi jangka panjang di luar angkasa seperti kembali ke Bulan atau perjalanan yang lebih jauh ke Mars.

Memiliki tempat tinggal yang dibangun di atas tanah Bulan mungkin dapat melindungi dari radiasi. Namun, berdasarkan pengukuran Apollo 17, radiasi dari bintang neutron mungkin bisa lebih tinggi di sana.

Secara keseluruhan, mengunjungi Bulan seharusnya tidak terlalu berisiko. Namun, untuk benar-benar tinggal di sana secara permanen dapat mempersingkat hidup.

Peneliti mengatakan, mereka akan melakukan studi lebih lanjut mengenai pengukuran radiasi di Bulan ini.

 

Wednesday, October 26, 2022

Janus, Dewa Awal dan Akhir dari Romawi yang Memiliki Dua Muka

 Janus adalah salah satu dewa kebanggaan orang Romawi kuno. Pasalnya, ia merupakan salah satu dewa "asli" Romawi yang tidak diadaptasi dari budaya Yunani kuno. Sering dikaitkan dengan gerbang, permulaan, dan transisi, Janus biasanya digambarkan bermuka dua. Ini sebagai simbol bahwa sang dewa dapat melihat ke masa depan dan masa lalu pada saat yang sama.

Ritual refleksi akhir tahun dan melihat ke masa depan yang dilakukan di awal tahun juga berkaitan dengan Janus, dewa awal dan akhir Romawi.

Penjaga pintu surga

Dalam mitologi Romawi, Janus adalah seorang raja Latium (wilayah Italia tengah). Istananya berada di bukit Janiculum, di tepi barat Sungai Tiber. Menurut Macrobius intelektual Romawi, Janus diberikan kehormatan Ilahi karena pengabdiannya. "Sang dewa memberikan contoh saleh bagi semua rakyatnya," tulis Caillan Davenport di laman The Conversation.

Janus dengan bangga dipuja sebagai dewa Romawi yang unik, bukan dewa yang diadopsi dari dewa Yunani. Nama Janus (Ianus dalam bahasa Latin,) secara etimologis terkait dengan ianua, kata Latin untuk gerbang atau pintu. Janus sendiri adalah ianitor atau penjaga pintu surga.

Patung pemujaan Janus digambarkan sebagai dewa berjanggut dengan dua kepala yang saling bertolak belakang. Ini berarti dia bisa melihat ke depan dan ke belakang, ke dalam dan ke luar secara bersamaan tanpa berbalik.

Janus memegang tongkat di tangan kanannya untuk memandu para peziarah di sepanjang rute yang benar. "Sedangkan kunci di kirinya untuk membuka gerbang," tambah Davenport.

Ketika gerbang kuil Janus terbuka, itu artinya Romawi sedang berperang

Kuil Janus yang paling terkenal di Romawi disebut Ianus Geminus atau "Janus Kembar." Ketika pintunya terbuka, kota-kota tetangga tahu bahwa Romawi sedang berperang. Ketika kedua pintu ditutup, Romawi sedang dalam kondisi damai.

Dalam catatan prestasinya, Kaisar Augustus mengatakan pintu gerbang ditutup hanya dua kali di hadapannya: oleh Numa (235 Sebelum Masehi) dan Manlius (30 Sebelum Masehi).

Akan tetapi Plutarch mengatakan, "Namun, selama pemerintahan Numa, gerbang tidak terlihat terbuka untuk satu hari, tetapi tetap tertutup selama empat puluh tiga tahun."

Kaisar Augustus sendiri menutupnya tiga kali yaitu pada 29 Sebelum Masehi setelah Pertempuran Actium.

Perang dan damai

Janus terkenal terkait dengan transisi antara perdamaian dan perang. Numa, raja kedua Roma yang legendaris, dipercaya mendirikan sebuah kuil untuk Janus Geminus di Forum Romawi. Kuil itu terletak di tempat Janus menggelegak mata air panas mendidih untuk menggagalkan serangan terhadap Roma oleh Sabine.

Kuil itu adalah sebuah selungkup yang dibentuk oleh dua gerbang melengkung di setiap ujungnya, disatukan oleh dinding membentuk lorong. Patung perunggu Janus berdiri di tengah, dengan satu kepala menghadap ke setiap gerbang. Menurut sejarawan Livy, tujuan Numa membangun kuil itu adalah:

"Sebagai simbol perdamaian dan perang, yang ketika terbuka mungkin menandakan bahwa bangsa itu bersenjata. Ketika ditutup, itu menunjukkan bahwa semua orang di sekitarnya menjadi tenang."


Gerbang Janus dikatakan tetap tertutup selama 43 tahun ketika Numa berkuasa. Namun setelah itu, gerbangnya jarang tertutup.

Nero kemudian merayakan akhir perdamaiannya dengan Parthia dengan mencetak koin yang menunjukkan gerbang Janus tertutup rapat.

Tradisi tahun baru orang Romawi

Orang Romawi percaya bahwa bulan Januari ditambahkan ke kalender oleh Numa. Keterkaitan antara Janus dan penanggalan diperkuat dengan pembangunan 12 altar di kuil Janus di Forum Holitorium. "Satu untuk setiap bulan dalam setahun," ujar Davenport.

Dari 153 Sebelum Masehi dan seterusnya, konsul (hakim kepala Republik) mulai menjabat pada hari pertama Januari. Para konsul baru mempersembahkan doa kepada Janus. Sedangkan imam mendedikasikan mantra dan persembahan garam serta kue jelai tradisional, yang dikenal sebagai ianual, kepada dewa.

Orang Romawi membagikan hadiah tahun baru berupa kurma, buah ara, dan madu kepada kerabat. Hadiah itu melambangkan harapan tahun depan akan menjadi manis, serta koin—tanda harapan kemakmuran.

Janus mengambil peran kunci dalam semua pengurbanan publik Romawi, menerima dupa dan anggur terlebih dahulu sebelum dewa lainnya. Sebabnya, sebagai penjaga pintu surga, Janus adalah rute yang dilalui seseorang untuk mencapai dewa-dewa lain, bahkan Jupiter sendiri.

Cato yang Tua mengungkapkan bahwa persembahan diberikan kepada Janus, Jupiter, dan Juno sebagai bagian dari pengorbanan pra-panen. Tujuannya untuk memastikan panen yang baik.

 

Tuesday, October 25, 2022

Necroplanetologi, Bidang Studi Astronomi yang Baru Diketahui


 Pada 2015, para astronom menemukan bintang katai putih yang berjarak 570 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki pola redup yang aneh. Bintang tersebut meredup beberapa kali di beberapa titik kedalamannya. Atmosfernya juga dipenuhi dengan unsur-unsur yang semestinya ditemukan di planet berbatu.

Bintang katai putih tersebut adalah WD 1145 + 017 yang gravitasinya mati tak lama dari penemuannya yang berada dalam proses menghancurkan benda-benda antariksa di sekitar orbitnya. Meskipun umumnya bintang katai putih umumnya mengeluarkan banyak material ketika mati dengan suatu ledakan, tapi anehnya pada peristiwa besar tersebut, benda antariksa sekitarnya bisa selamat.

Bangkai WD 1145 + 017 pun menjadi rekonstruksi forensik astronomi untuk memahami bagaimana dan seperti apa caranya suatu benda bintang mati.

Pada fenomena seperti inilah, para astronom Inggris dan Amerika Serikat menyebutnya sebagai necroplanetologi, bidang baru astronomi untuk mempelajari bangkai antariksa.

Menurut para ahli necroplanetologi, analisis mengenai WD 1145 + 017 bisa diterapkan pada penemuan masa mendatang di sistem bintang katai putih lainnya untuk memahami bagaimana planet mati mengorbit berbagai jenis bintang mati.

Bintang katai putih tersebut memiliki gravitasi yang kuat. Ini menunjukan bahwa ia telah mengumpulkan banyak material baru dari bangkai-bangkai yang selamat dari proses kematian bintang.

Kelompok astronom yang terdiri dari University of Colorado, Wesleyan University, dan University of Warwick melakukan simulasi untuk menempatkan batasan pada bangkai antariksa yang tidak terdampak dari proses pasang-surut gravitasi bintang pada proses kematiannya.  Simulasi tersebut menggunakan 36 bangkai antariksa yang komponen strukturnya digunakan untuk meneliti inti dan mantel, komposisi mantel, kerak dan orbit bangkai planet.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di The Astrophysical Journal, simulasi ini menunjukan bahwa bangkai yang paling mungkin menghasilkan apa yang diamati dalam WD 1145 + 017, memiliki inti yang kecil dan mantel kerapatan rendah.

Selanjutnya, para astronom ingin bintang-bintang misterius lainnya seperti KIC 8462852, bintang AKA Tabby, yang peredupannya tidak konsisten, juga bintang katai putih lainnya yang memakan bangkai antariksa seperti ZTF J0139 + 5245 dan WD J0914 + 1914, untuk diteliti secara necroplanetologi.

Dua Spesies Baru Hiu Gergaji Ditemukan di Perairan Afrika Timur


kajae dan Pliotrema annae merupakan dua spesies hiu gergaji yang baru ditemukan. Para peneliti menjulukinya sebagai Kaja dan Anna. Spesimen keduanya ditemukan di perikanan lokal di pantai Madagaskar dan Zanzibar.

Dari bukti yang dikumpulkan di Afrika Timur, para peneliti kemudian membandingkannya dengan spesimen hiu gergaji yang ditemukan di beberapa museum di seluruh dunia. Hasil penelitian menggunakan pengukuran anatomi, foto-foto resolusi tinggi, dan pindai
mikroskop elektron menunjukkan bahwa dua spesies ini belum pernah didokumentasikan secara ilmiah sebelumnya.

Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan para peneliti dari Newcastle University, Simon Weigmann, peneliti utama, mengatakan bahwa penemuan ini luar biasa. Biasanya, hiu gergaji hanya memiliki lima insang, tapi Kaja dan Anna punya enam insang.

Sebelumnya, hanya ada satu spesies hiu gergaji dengan enam insang dalam jenis Pliotrema. Sekarang, berkat penemuan baru tersebut jadi bertambah dua anggota lagi.


Hiu gergaji memiliki ukuran hingga 1,5 meter. Ia dikenal karena mulutnya berbentuk gergaji yang digunakan untuk berburu ikan, krustasea, dan cumi-cumi.

Jika dilihat dari bawah, mereka sangat aneh, wajahnya seperti mengkerut. Meski begitu, mata mereka sebenarnya ada di bagian atas kepala--memudahkannya untuk menatap ke atas saat berjalan di sekitar perairan pantai.

Para peneliti mengataka, penemuan baru ini menyadarkan betapa sedikitnya yang diketahui tentang keanekaragaman hayati perairan pesisir di seluruh dunia. Ini juga menunjukkan bahwa kita seringkali tidak menyadari betapa rapuhnya perikanan dan ekosistem yang tidak dikelola dengan baik.

Andrew Temple, salah satu peneliti studi ini, mengatakan bahwa penemuannya menegaskan kembali betapa pentingnya Samudera Hindia bagian barat dalam hal keanekaragaman hayati hiu dan pari, sekaligus mengingatkan kita masih ada jenis lain yang belum diketahui.

Monday, October 24, 2022

Hutan Araucaria, 'Fosil Hidup' yang Ditanam Manusia Kuno Amerika


 Petak hutan terancam punah yang ditemukan di sepanjang Amerika Selatan, ‘berhutang nyawa’ kepada orang-orang asli setempat yang hidup harmonis bersama mereka selama beberapa abad.

Para arkeolog menduga, Araucaria atau pohon teka-teki monyet telah tumbuh berabad-abad lalu karena cuaca yang lebih hangat dan basah menyebar di seluruh wilayah tersebut.

Namun, bagaimana pun juga, hasil penelitian menyatakan, kelompok masyarakat Jê Selatan lah yang memainkan peran penting dalam menumbuhkan hutan Araucaria. Mereka merawat pohon untuk sumber makanan dan kebutuhan lainnya.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa hutan ini merupakan buatan manusia,” kata dr. Mark Robinson, arkeolog dari University Of Exeter.

“Kelompok masyarakat tersebut menetap di padang rumput. Kemudian, mereka memodifikasi tanah, melindungi bibit, bahkan menanam pohon hingga akhirnya menjadi hutan. Padahal, secara geografis, hutan Araucaria seharusnya tidak berkembang di sana,” paparnya.

Bersama dengan tim peneliti internasional, dr. Robinson menemukan fakta bahwa pohon-pohon Araucaria telah mengalami dua ekspansi besar di wilayah tersebut.

Yang pertama, terjadi sekitar 4.480 hingga 3.200 tahun lalu – disebabkan oleh meningkatnya kelembapan. Namun, ini tidak menjadi alasan pertumbuhan terbesar kedua yang memuncak pada 900 tahun lalu.

Pada fasekedua  tersebut, hutan meluas ke area dataran tinggi yang kondisinya relatif kering. Namun, mereka tetap bisa tumbuh. Ini bertepatan dengan periode meningkatnya penduduk Je Selatan serta perkembangan masyarakat yang kompleks.  

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada jurnal Scientific Reports.

Hingga saat ini, jutaan Araucaria atau pohon teka-teki monyet yang meliputi beberapa wilayah Cile, Brasil, dan Argentina, masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Penduduk lokal menyebut diri mereka sebagai “orang-orang Araucaria”, karena mengadalkan pohon tersebut untuk kebutuhan kayu, bahan bakar, makanan dan getahnya.

Tidak hanya menjadi ‘pohon nasional’ di Cile, festival dan perayaan pun dilakukan untuk menghormati hutan Araucaria – ia menjadi pusat dari kosmologi lokal.

Meskipun begitu, keadaan Araucaria tidak baik-baik saja. Pohon yang menjadapat julukan ‘fosil hidup’ ini berada di dalam ancaman: lahan hutan yang luas akan diubah menjadi pertanian.

Lima dari 19 spesies pohon teka-teki monyet terancam punah. Dua diantaranya berada dalam kondisi kritis.

Para ilmuwan di balik studi ini mengatakan, hasil penelitian mereka seharusnya menjadi pengingat pentingnya peran Araucaria bagi lingkungan maupun budaya setempat. Oleh sebab itu, kita harus melindunginya.

“Studi ini menunjukkan bahwa hutan Araucaria mampu meluas di luar batas alami mereka. Artinya, hutan  dijaga dan digunakan secara berkelanjutan selama ratusan tahun. Strategi konservasi saat ini harus mencerminkan hal tersebut sehingga perkembangan ekonomi dan warisan masa lalu bisa seimbang,” kata Profesor José Iriarte dari University of Exeter yang menjadi bagian dari tim peneliti.

Saturday, October 22, 2022

Setelah Sepuluh Tahun, Makam Firaun Tutankhamun Selesai Direstorasi


 Setelah satu dekade, para arkeolog akhirnya berhasil menyelesaikan restorasi makam firaun Tutankhamun di Mesir.

Dilansir dari Kompas.com, proyek yang dilakukan oleh Getty Conservation Institute (GCI) dan Kementerian Purbakala Mesir ini, berusaha memperbaiki lukisan dinding yang menghiasi makam berusia 3.000 tahun tersebut dari goresan dan lecet. Mereka juga menambahkan beberapa fitur seperti penghalang baru dan sistem ventilasi yang akan mengurangi kerusakan situs di masa depan.

"Konservasi dan pelestarian penting dan menjadi warisan bagi masa depan," kata Zahi Hawass, ahli Mesir Kuno, dikutip dari Kompas.com. 

Tutankhamun sendiri lahir pada masa Kerajaan Baru Mesir, sekitar 1342 SM. Ia kerap dipanggil dengan julukan 'raja anak' karena mulai memerintah pada usia sembilan tahun.

Tutankhamun meninggal secara tiba-tiba pada usia belasan. Beberapa ahli mengatakan, kemungkinan dia mangkat karena sakit. Namun, teori lain mengungkapkan bahwa raja muda tersebut meninggal dalam kecelakaan kereta.

Makam Tutankhamun pertama kali ditemukan pada 1922 oleh peneliti Mesir dari Inggris, Howard Carter. Dia menemukan makam dalam kondisi yang baik, padahal kuburan raja lainnya telah mengalami penjarahan. Makam Tutankhamun selamat dari perampok berkat lumpur dan bebatuan yang menghalangi pintu masuk.

Bersama timnya, Carter menghabiskan waktu selama sepuluh tahun untuk menyelidiki serta mengeluarkan berbagai artefak yang membuat sesak di makam. Setelah dibuka untuk umum, situs ini menjadi objek wisata utama.

Sayangnya, pengunjung membawa debu serta perubahan kelembaban dan karbon dioksida yang mengancam lingkungan di dalam makam sehingga restorasi perlu dilakukan. 

Kini, makam Tutankhamun masih berisi beberapa artefak asli, termasuk mumi sang raja. Peninggalan inilah yang membuat makam tersebut memang harus dilindungi.